Menjelang pagi kenangan tentangmu kembali menyembul lewat secarik foto. Ekspresi dan ruang tajamnya membidik ulu hati, dulu kuhargai lebih untuk setiap karyamu tanpa pernah aku tahu mengapa. Agh ternyata baru kutemui jawabnya selang setahun kita tak lagi bersama. Photograph menjadi ruang ekspresi di kala tidak ada kata yang mampu melukiskan perasaanmu, "seperti kamu dan puisi", ucapmu kala itu sementara aku terduduk letih sehabis mengantarmu hunting.Senja keesokan hari aku tersenyum simpul ketika kau lepaskan tangan dan berlari mencari kembang api lalu aku pun pulang sendiri. Aku mencari frame terbagus untuk foto sunset di parangtritis tapi kau menolaknya,"biarkan saja kunikmati sendiri", ujarmu sembari memeluk ujung kepalaku. Sungguh aku berusaha mengerti photograph semenjak itu, bahkan akupun mengumpulkan beberapa foto yang kuambil sendiri tanpa pernah aku perlihatkan padamu. Aku tidak hanya jatuh cinta pada bau tubuhmu tapi juga pada photograph tanpa sepengetahuanmu. Masih saja kau tak memperbolehkan aku menyentuh kamera milikmu,"eh jangan..berat nanti jatuh" padahal aku sudah hapal setiap bagiannya. Hari kamis saat kau berada di ruang gelap bersama keheningan, begitu ingin aku menemani dan duduk disampingmu. Kau selalu hanyut dalam dunia yang kau pikir hanya milikmu hingga sekarang pun tak pernah sekalipun kau memberikan sebuah foto yang kau ambil ketika aku lengah atau tertidur...
::Semenjak itu bayangmu hadir di lensa kameraku hingga aku tak berani lagi aku sentuh::