Saya beruntung bisa mendengar Suara emas Diana Ross secara langsung, tanggal 23 maret lalu sang peraih 12 grammy ini menggelar konsernya di Pacific Place hotel Ritz Carlton. Konsep "manggung" Ross kali ini adalah elegan dan Klasik, elegan karena di gelar di salah satu tempat elite di jakarta dengan harga tiket 2-10 jt rupiah, dan Klasik karena panggungnya berwarna hitam dengan nuansa minimalis.
Inilah konser termahal yang pernah saya datangi (beruntung saya tidak membayar untuk itu), sebelumnya di tahun 2007 saya juga mendapat keberuntungan menyaksikan konser Kuartet Il Divo. Waktu itu harga tiket 5 jt rupiah terbilang mahal tapi tidak untuk para menteri dan socialita negeri ini. Buat saya pribadi Diana Ross atau Il Divo layak mendapat apresiasi untuk mendatangkan musisi kelas dunia ke tanah air bukanlah sesuatu yang murah (entah apa sebabnya).
Kembali ke Diana Ross, dari hasil liputan konser bertajuk An Evening With Diana Ross saya merasa tiket seharga 10jt rupiah itu tidak sebanding dengan penampilan Ross yang tidak maksimal di atas panggung. Selain diserang sakit gigi sehari sebelumnya, pemilihan lagu pun tidak berhasil "menyentuh" penonton yang sebagian besar selebritas dan Rombongan RI-2. Di ujung penampilannya Ross berhasil menghidupkan suasana dengan lantunan lagu I Will Survive, setelah tiga kali bolak- balik untuk ganti baju Ross kembali ke belakang panggung. Penonton masih menantikan Ross untuk menutup konser namun hingga 10 menit kemudian sang diva beusia 63 tahun itu tidak juga muncul dan pertunjukkan pun berakhir tanpa klimaks. Belakangan saya mengetahui jika terjadi miss understanding antara Diana Ross dengan Band pengiringnya (sungguh tidak profesional untuk artis kelas dunia semacam Ross).
Begitulah, Diana hanya mamapu mengobati kerinduan penggemar tapi tidak berhasil menghibur penonton. Saya juga kecewa dengan tata lampu yang sederhana dan penataan tempat yang terlalu biasa saja. I think Il Divo is better!!!