Gadis Icarus
Oleh: Endah Sulwesi
Judul asli : The Icarus Girl
Penulis : Helen Oyeyemi
Barangkali sebagian dari kita pernah memiliki teman khayalan saat kita masih kecil dahulu. Menurut ilmu psikologi, itu adalah gejala kejiwaan yang wajar terjadi dan hampir setiap anak mengalaminya. Saya sendiri tidak ingat, apakah saya pernah memilikinya. Namun, sekarang saya sering memerhatikan keponakan saya berumur lima tahun beberapa kali terlihat seperti sedang bercaka-cakap dengan seseorang yang tidak tampak. Entah, apakah ia tengah berada dalam fase "teman khayalan" itu?
Dalam novel Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng karya Jostein Gaarder, tokohnya juga punya seorang teman khayalan yang terus "ada" sampai si tokoh dewasa dan tua. Teman khayalannya itu seorang lelaki kecil setinggi satu meter dan selalu membawa-bawa tongkat. Ia muncul biasanya pada waktu sang tokoh membutuhkan guna menyelamatkannya dari situasi tertentu yang dirasa tidak aman dan tidak nyaman.
Begitu juga dalam A Beautiful Mind, kisah nyata kehidupan John Nash, pemenang nobel bidang ekonomi yang harus dirawat di rumah sakit jiwa karena dianggap mengidap kelainan jiwa. Ia mempunyai seorang teman khayalan, gadis kecil pirang dengan bonekanya.
Dari kedua buku tersebut, kiranya teman khayalan itu tidak hanya milik anak-anak kecil saja dan pada tahap tertentu hal tersebut bisa jadi merupakan penyakit kejiwaan.
Novel The Icarus Girl garapan Helen Oyeyemi juga bercerita seputar teman khayalan seorang gadis cilik, Jessamy Harrison. Jess, demikian gadis itu disapa, baru berumur delapan tahun, beribukan Sarah asal Nigeria dan ayah Daniel Harrison, orang Inggris asli.
Untuk ukuran gadis 8 tahun, Jess tampak sedikit "berbeda" dibandingkan teman-teman seusianya. Ia pendiam, suka menyendiri, dan senang sekali membaca (novel favoritnya : Little Women). Sebagai peranakan kulit hitam, ia kerap mendapat masalah dalam pergaulan dengan teman-teman di sekolahnya. Ia tidak suka kelasnya. Ia merasa jauh lebih nyaman berada di dalam lemari pakaian ibunya daripada di dalam kelasnya.
Suatu hari, ia bersama kedua orang tuanya pergi mengunjungi kakeknya di Nigeria. Sebenarnya ia sudah menolak ikut, akan tetapi ibunya ingin mereka semua pergi dan berkenalan dengan keluarga besarnya di Nigeria. Jess tidak pernah menduga, di Nigeria ini ia bertemu dan bersahabat dengan Titiola (yang kemudian dipanggilnya TillyTilly).
TillyTilly muncul pertama kali di Rumah Anak Laki-laki, yakni satu unit bangunan tua dan lapuk yang sudah tidak pernah dipakai lagi. Letaknya tidak jauh dari rumah induk keluarga besar kakeknya. Sejak itu mereka pun berikrar untuk saling setia sebagai sahabat.
Persahabatan mereka terus berlanjut hingga Jess kembali Ke London, Inggris. Beberapa hari setelah kepulangannya, TillyTilly muncul dengan rok kotak-kotak hijau putih seperti murid sekolah. Jess yang senantiasa merasa kesepian dan sendiri tentulah gembira sekali dengan kehadiran "temannya" itu. TillyTilly benar-benar memenuhi janjinya untuk selalu setia. Ia bahkan membalaskan sakit hati Jess pada teman-teman dan guru yang suka mengejeknya. Karena TillyTilly tidak terlihat oleh orang lain, maka Jess-lah yang harus menanggung segala akibat perbuatan TillyTilly yang menjadi sangat posesif.
Lama-kelamaan perilaku Jess semakin terlihat aneh. Di sekolah dan di rumah selalu saja mendapat masalah. Akhirnya, ibunya membawa Jess ke seorang psikolog, Dr. McKenzie, yang mendiagnosis kasusnya sebagai kasus multiple personality disorder atau kepribadian ganda. Kesimpulannya, TillyTilly itu adalah alter ego Jessamy yang muncul setiap kali Jessamy merasa terancam dan marah.
Saya hampir setuju dengan Dr.McKenzie kalau saja tidak ada peristiwa permen jelly baby itu.
Novel (psikologi) yang menarik dengan racikan bumbu thriller lumayan menegangkan. Setidaknya berhasil memicu rasa penasaran pembaca akan bagaimanakah akhirnya, terutama demi mengetahui apa atau siapakah sebenarnya TillyTilly. Betulkah ia hanya teman khayalan atau satu kepingan pribadi Jessamy yang terbelah? Atau lebih jauh lagi, ia adalah arwah penasaran yang merasuki raga dan jiwa Jessamy?
Ketegangan terbangun sedikit demi sedikit seiring dengan perubahan karakter TillyTilly dari seorang gadis manis menjelma posesif dan kejam. Kita dibuat menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Salah satu faktor yang membuat novel ini menarik adalah karena tokohnya anak-anak. Rasanya, ada kepolosan dan kejujuran tersendiri yang tidak terdapat dalam cerita-cerita dengan tokoh orang dewasa. Ingat saja misalnya, To Kill A Mockingbird (Harper Lee) atau Totto Chan (Tetsuko Kuroyanagi).
Dalam novel ini, Helen Oyeyemi sempat menyinggung perihal rasialisme yang terjadi di Inggris. Ia juga mengangkat budaya dan tradisi Nigeria untuk mendukung cerita agar tersedia alasan dan penjelasan logis di bagian-bagian yang bersifat mistis.
Helen Oyeyemi adalah penulis kelahiran Nigeria (1984) yang kemudian menetap di London, Inggris. The Icarus Girl merupakan karya debutannya yang ia tulis saat masih duduk di bangku SMU.
Satu pertanyaan : mengapa judulnya The Icarus Girl ya? Apakah ini menggambarkan Jessamy yang selalu ingin terbang bebas seperti Icarus, anak Daedalus dalam mitologi Yunani yang ingin menggapai matahari dengan sayap lilinnya?
Endah Sulwesi 13/8
http://perca.blogdrive.com